Tweet and Share

    Dibaca 386 kali


Menjelang berakhirnya milenium ke 2, terbit beberapa buku yang ditulis para futurolog kelas dunia berisi proyeksi (untuk tidak menyebut ramalan) gambaran kehidupan abad 21. Menariknya para futurolog baik dari kalangan Islam seperti Ziauddin Sardar, maupun Barat seperti Alvin Tofler dan John Neisbit menempatkan informasi dan teknologi sebagai faktor penting pengubah dunia. Mereka mengatakan: siapa yang menguasai teknologi dan informasi dia lah yang akan menguasai dunia.  

Kini 50 tahun sejak Alfin Tofler menerbitkan buku Future Shock (1970), ramalan tersebut seakan menjadi kenyataan. Teknologi, informasi dan kolaborasinya menjadi teknologi informasi kini menjadi sangat determinan dalam kehidupan manusia. Hampir tidak ada manusia yang mengaku modern yang tidak memiliki alat komunikasi untuk mengakses informasi melalui gadget berupa komputer jinjing, tablet, dan smartphone.

Begitu pentingnya Gadget dalam keseharian kita menjadikan sebagian dari kita sudah terjangkit penyakit yang disebut sebagai gadget mania, gelisah kalau beberapa saat  tidak menatap layar gadget. Lihat saja fenomena di lampu merah, para pengendara motor langsung membuka gadgetnya begitu lampu merah menyala. Lebih gila lagi banyak pengendara motor mengoperasikan gadgetnya, chating sambil pegang stang motor yang berjalan.

Kemajuan teknologi informasi dan meratanya kepemilikan alat pengakses informasi ditambah murahnya biaya mentransmisikan dan mengakses informasi mestinya disikapi secara positif untuk membangun kesetaraan, produktivitas dan kesejahteraan umat manusia.
Tetapi di tangan orang atau kelompok orang yang tidak bertanggungjawab, teknologi informasi menjadi senjata sangat mematikan melebihi Bom atom yang meledak di Hirosima. Di tangan orang-orang jahil, sesuatu yang benar bisa disalahkan sementara yang salah bisa disulap menjadi kebenaran.Teknologi informasi dapat membunuh kesadaran bahkan membalikkan iman seseorang.

Dalam genggaman kita, di layar gadget kita, informasi begitu deras datang bertubi-tubi. Informasi yang bermanfaat maupun informasi sampah berlomba membujuk mata kita membacanya. Pandai-pandailah kita memilah dan memilih informasi yang akan kita konsumsi.

Informasi di gadget kita menampakkan diri dan menyebar dalam bentuk (1) berita yang diproduksi oleh media masa secara online dan on air/ streaming, (2) status dan postingan di media sosial seperti facebook, instagram, tweeter, fath dll. (3) Media komunikasi seperti WhatAps, Line, Imo dan sebagainya.

Kita sering membagi mass media online dalam dua kategori yaitu mass media mainstream dan mass media abal-abal. Mass media mainstream adalah mass media yang sudah dikenal, mendapat ijin dari pemerintah yang sebagian berasal dari media cetak dan atau televisi. Kompas.com, Tribune.com, Tempo.co.id, Republika.co.id, dan lain-lain. Alamat kantor, nama-nama pengelola dan pemilik sahamnya dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan mass media abal-abal adalah mass media yang pengelola dan kepemilikannya tidak jelas bahkan banyak yang fiktif.

Informasi yang diproduksi mass media baik online maupun on air (tayangan televisi)  sering tidak bebas dari berbagai kepentingan seperti kepentingan bisnis, kepentingan politik sampai kepentingan agama. Contoh paling mudah kita lihat adalah bagaimana posisi masing-masing mass media pada saat PILPRES 2014 yang lalu. Suatu event atau peristiwa bisa menjadi berbeda bahkan saling bertentangan ketika diproduksi oleh media yang berlainan kepentingan. Cara menayangkan berita masing-masing media tergantung pilihan keberpihakan para pemilik modalnya. Atau bahkan tergantung siapa yang memberi modal. Nampaklah bagi kita, standar berita/ informasi sebagaimana yang kita pelajari saat sekolah jurnalistik disingkirkan. Demikian pula kode etik wartawan diabaikan.

Seperti juga media mainstream, media abal-abal harus disikapi secara kritis. Mudah dan murahnya biaya membuat media online menjadi lahan subur tumbuhnya media online abal-abal. Dibanding media mainstream, media abal-abal sangat rapuh jadi sasaran tudingan produsen hoaks. Memang banyak media abal-abal diluncurkan untuk menyerang dan menghancurkan pihak lawan terutama Islam.

Dalam persfektif kita, valid tidaknya sebuah berita tidak tergantung pada ukuran media itu mainstream atau abal-abal. Banyak loh para pejuang Islam yang bermodal kecil menyuarakan Islam dan  dalam bentuk media yang oleh media mainstream disebut abal-abal.

Yang justru lebih memprihatinkan lagi, kini beroperasi beberapa perusahaan yang memperoleh pendapatan dengan memproduksi berita palsu. Caranya tidak sekedar memelintir berita, menyembunyikan sebagian fakta atau menampilkan peristiwa dari sudut kepentingan pemodal. Tetapi juga sudah mampu membuat peristiwa atau kejadian faktual yang disetting sedemikian rupa agar ditulis dan disiarkan wartawan.

Tidak kalah berbahayanya adalah penyebaran informasi melalui media sosial. Melalui Facebook, Tweeter dan sejenisnya, informasi palsu, kata-kata kotor bahkan kebencian mudah diproduksi dan mereproduksi diri sehingga menyebar tak terkendali. Satu orang “jahat” bisa memiliki puluhan akun fiktif untuk menjadikan sebuah konten palsu menjadi viral sehingga banyak orang yang menganggapnya sebagai kebenaran. Jika seratus orang jahat ini bersekongkol dibantu aplikasi pengganda otomatis, maka jadilah mereka bad digital army yang bisa merusak kesadaran dan keimanan manusia. Cara ini kerap dilakukan para pendukung kontestan dalam pemilu untuk mendongkrak elektabilitas calon yang didukung sekaligus menghancurkan kredibilitas lawannya.

Sebagai orang Islam, apakah kita harus menolak semua informasi? Membuang gadget dan komputer kita? Tentu Tidak.

Dalam surat Al Hujurat Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”  (QS. Al-Ĥujurāt :6).

Selain itu, sebagai pengguna aktif medsos dan media komunikasi,  kita  tidak boleh me-retweet, me-reshare menyebarkan berita yang belum diyakini kebenarannya. Bahkan like yang kita berikan pada status seseorang di medsos harus dilakukan secara hati-hati dan penuh tanggungjawab.  [Edi Ryanto]

Tags

Artikel Terkait

Benchmarking
    tmz
  • January 03, 2017

Kalau kita membaca koran, melihat televisi bahkan di internet, Pers nasional tidak bosan-bosannya  meributkan studi ban ...

Standar Ganda
    tmz
  • January 03, 2017

Semua kendaraan bermotor roda dua baik matik maupun manual pasti memiliki bagian penting yang disebut standar. Yaitu lem ...

Besar Tak selalu Direbutkan
    tmz
  • January 03, 2017

Dalam sejarah peradaban manusia kita selalu mendengar bahwa yang diperebutkan adalah sesuatu yang besar, banyak, indah d ...

Tiga Jam Sepuluh Tahun
    tmz
  • January 03, 2017

Saya baru saja selesai menyaksikan pertandingan yang sangat fenomenal, bombastis dan juga fantastis, serta spektakuler a ...

Ikhlas Itu Tak Mudah
    tmz
  • January 03, 2017

Di beberapa kesempatan, entah pengajian, ceramah ramadhan, kultum dan tausyiah ringan lainnya saya sering mendengar baga ...